Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, November 26, 2017

Menciptakan Kostumer atau Pelanggan Berawal Dari Antusias Dan Keyakinan Pada Produk

Apakah Anda suka mencoba software-software baru baik itu di komputer atau di gawai genggam? Saya sangat suka. Saya sering kehilangan waktu yang banyak gara-gara hal ini.

Satu kategori atau fungsi softwarenya bisa berasal dari lebih dari 10 developer. Contoh : aplikasi untuk membuka file PDF, ada Adobe Reader, Foxit PDF Reader, SumatraPDF, dst. Kadang-kadang saya heran, kenapa ada saja yang software baru dengan fungsi yang sama, bahkan sering kemampuannya tidak sebagus dari yang sudah ada.

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas yang berkaitan dengan pelanggan?

Setiap aplikasi ternyata memiliki pelanggannya masing-masing. Mulai dari pengguna biasa yang tidak mengerti ilmu pemrograman sampai programmer.



Mereka antusias. Dan punya keyakinan dan visi bahwa aplikasi mereka dapat berkembang dan digunakan oleh banyak orang.

Hal sama terjadi dipelbagai bidang lain.

Contoh saja, blog tentang blogging, meskipun sudah ada Sugeng.id, Panduanim.com, tetap saja akan bermunculan blog-blog baru yang akan membahas tentang topik itu, dan setiap blog memiliki pelanggannya masing-masing.

Apa yang dapat kita pelajari?

Yakin saja terhadap jasa atau produk yang kita tawarkan baik itu sifatnya gratis atau berbayar. Siapa pelanggan kita dan bagaimana mereka datang menyambut tawaran-tawaran kita, tergantung pada bagaimana kita mampu menyentuh sisi emosi yang mereka butuhkan. Hal ini karena manusia sangat suka membuat komunitas, kelompok, geng, grup, atau organisasi yang memiliki tujuan, rasa sakit, senasib, dan usaha yang sama.

demikian

Selasa, November 21, 2017

Kasihan Banget, Cuma Gitu Doang Bisanya

Mengkritik diri sendiri adalah fakta yang nyata. Setidaknya bagi diriku. Judul di atas pun merupakan kalimat kritik pedas dan sangat tidak membangun. Bikin patah semangat. Dan ironisnya, aku sendiri yang melakukannya.



Mengatasinya pun, akhirnya, adalah usaha yang harus aku lakukan sendiri. Kalau mau sehat, salah satunya adalah berolahraga, bukankah kita tidak bisa mendelegasikan kegiatan melelahkan itu pada orang lain, kan?

Bagaimana aku mengatasinya? Aku memiliki beberapa cara yang mungkin bekerja sebagai berikut :

Cara pertama, mengamati sejenak kritikan yang hadir dalam kepala sendiri itu tanpa terpengaruh, tidak diambil hati.

Cara kedua, tekun melakukan hal yang dikritik. Kuping badak harus dalam mode online. Jika, kritikan datang sembari kita bekerja terapkan cara pertama.

Cara ketiga, mengajak dialog bagian diri yang suka mengkritik ini. Bagian kritik ini memiliki banyak informasi yang kadang-kadang cukup mengejutkan. Dan bagian kritik, sebenarnya, memiliki tujuan positif agar kita tetap dijalur ideal, dan dapat menuju ke arah yang tepat, atau juga tujuan lain yang menghalangi kita dari kerugian. Dengan mengajak dialog kita dapat mempertimbangkan informasi dan mengetahui tujuan dibalik kritikan, serta kita dapat mengajukan kesepakatan-kesepakatan bersama sehingga kritikan lebih mendukung pada usaha yang sedang kita jalankan. Dialog ini dapat dilakukan dengan cara menuliskannya dalam format tanya jawab. Melalui imajinasi pikiran seolah-olah kita sedang berbicara dengan orang bernama Kritik.

Begitulah beberapa cara mengatasi kritik yang berasal dari dalam diri. Kritik menciptakan keraguan-keraguan dan selama kita hidup kera